26 November 2012

Renungan Malam

Ada sebuah pohon apel besar tumbuh di halaman sebuah rumah. Anak kecil di keluarga tersebut suka bermain di sekitar pohon itu setiap hari. Memanjatnya, makan apel langsung ketika berbuah lebat, atau sekadar tidur di bawahnya saat panas terik.

Tak terasa waktu pun berlalu. Anak ini menjadi remaja. Suatu hari, ia menghampiri pohon apel tersebut.


"Ayo kita bermain lagi seperti dulu," ajak pohon apel.

"Wah, saya bukan lagi anak kecil. Sudah bukan jamannya memanjat pohon saja. Sekarang saya lagi bingung, butuh uang untuk mentraktir pacar saya."

"Saya hanya sebatang pohon, tidak punya uang. Tapi kalau kamu mau, silahkan ambil semua apel saya dan menjualnya. Jadi kamu punya uang untuk pacar kamu."

Anak itu gembira, ia lalu memetik semua apel di pohon itu dan pergi dengan pacarnya. Anak itu tak pernah kembali memperhatikan sang pohon apel.

Bertahun berlalu, anak itu kini menjadi lelaki dewasa. Suatu hari ia datang lagi menghampiri pohon apel tersebut.

"Sekarang kamu sudah dewasa, ada waktu untuk bermain dan mengenang masa lalu?" tanya pohon apel.

"Saya tidak punya waktu untuk itu. Saya harus bekerja untuk keluarga. Dan sekarang sedang bingung karena kami tak punya rumah untuk berteduh."

"Oh kasihan. Kalau kamu mau silahkan potong cabang-cabang saya dan jadikan rumah untuk keluargamu."

"Benarkah?" tanya pria tersebut. Ia pun mengambil kapak dan memotong semua cabang di pohon apel hingga hanya tersisa batang utama saja. Pria itu lalu pergi membangun rumahnya dan tak pernah kembali.

Setelah bertahun-tahun kemudian, tiba-tiba pria ini kembali lagi. Sebagian rambutnya sudah berwarna keperakan tanda usia yang matang.

"Apa kabar, kawan?" tanya pohon apel yang kini tanpa dedaunan lagi.

"Halo pohon apel. Sekarang saya sudah pensiun, dan ingin menikmati masa tua dengan berlayar sambil memancing."

"Oh saya tahu," tebak sang pohon apel. "Silahkan, bila kamu mau pakailah batang utama di tubuh saya dan jadikan perahu untukmu."

"Ah, terima kasih," sahut pria tersebut. Ia pun menebang batang pohon apel lalu menjadikannya perahu. Sang pohon apel terlupakan lagi. Walau perasaannya sungguh sedih, namun dibiarkan pria itu pergi.

Kini, setelah hampir 60 tahun berlalu, seorang pria tua renta pulang kembali ke rumah masa kecilnya. Tiba-tiba ia tersandung sesuatu. Ternyata akar pohon apel yang tersisa.

"Oh rupanya kamu pohon apel yang dulu," ujar pria tua tersebut.

"Apa kabar kawan masa kecil? Sekarang saya tinggal akar tua tersisa, tidak bisa mengajakmu bermain atau berteduh di bawah rimbun daun saya."

Pria tersebut hanya terdiam dan duduk di salah satu akar sang pohon apel. Dari matanya mengalir air mata bening, menitik jatuh di antara keriput wajahnya.

 
Moral Cerita 
Pohon apel melambangkan orang tua kita. Demikianlah, saat kita kecil senang bermain dengan ayah dan ibu. Seraya remaja dan dewasa kita meninggalkan mereka. Hanya sesekali datang pada mereka saat membutuhkan pertolongan.

Walau demikian, orang tua kita seperti pohon apel tersebut, selalu rela menolong dan berkorban agar kita bisa keluar dari kesulitan. Kasih orang tua memang tiada batas.

Semoga kita tidak seperti anak dalam cerita yang mengambil dan melupakan sang pohon apel begitu saja. Melainkan mau menghargai dan merawat orang tua agar masa tua mereka tak berakhir sedih laksana akar-akar pohon apel yang tersisa.
 
 

Ketahui Orang Berbohong dari Hidungnya

Ingat Pinokio? Bila ia berbohong maka hidungnya memanjang. Ternyata cerita yang ditulis  arlo Collodi ini bisa dibuktikan secara ilmiah. Memang, orang yang berbohong hidungnya tak akan menjadi panjang. Namun, memang ada perubahan pada indera penciuman kita ini kalau berbohong.

Menurut Emilio Gomez Milan dan Elvira Salazar Lopes, peneliti dari University of Granada, seperti dilansir oleh NY Daily News, rasa cemas menyebabkan ujung hidung bertambah panas. Artinya ada perubahan suhu pada hidung kalau berbohong, maklum takut ketahuan, kan?

Nah, para ilmuwan tersebut menemukan setelah melakukan tes pada partisipan melalui kamera pendeteksi panas. Peneliti menamakan ini 'Pinokio Effect'. Penelitian ini menunjukkan bahwa suhu pada ujung hidung partisipan berubah-ubah sesuai dengan mood. Begitu juga dengan otot orbital pada sudut bagian dalam mata.

Selain itu mereka juga mengklaim bahwa suhu tubuh juga dapat mendeteksi hasrat seksual pria dan wanita. Ketika merasakan gairah seksual, suhu tubuh bagian dada dan daerah genital akan meningkat.

Kesimpulannya, ketika seseorang berbohong, korteks insular pada otak akan berubah dan menyebabkan perubahan suhu tubuh. Hal ini karena korteks insular berkaitan dengan pengaturan suhu tubuh.

Sayangnya tak semua orang bisa mengetahui perubahan suhu ujung hidung orang lain. Jika ingin tahu apakah orang tersebut berbohong atau tidak, setidaknya Anda harus menggunakan pemindai suhu tubuh. Wah repotnya...
 
 

Proses Pembuatan Uang

Uang, semakin tinggi angkanya, semakin tinggi pula hasrat kita untuk memilikinya. Mungkin itulah yang terlintas di pikiran hampir setiap orang tentang uang. Namun, pernahkah terlintas di benak Anda hasrat untuk mengetahui bagaimana uang itu diproduksi?
Untuk lebih jelasnya, yuk kita telusuri proses pencetakan uang di Perum Percetakan Uang RI (Peruri), Karawang, Jawa Barat.
 
Ternyata tidak sembarang orang bisa masuk ke kawasan percetakan uang tersebut. Harus benar-benar orang yang terdaftar sudah membuat janji atau khusus undangan Peruri yang bisa memasuki kawasan ini.
 
Lapisan pengamanan yang ketat akan Anda hadapi sejak melangkahkan kaki di sini. Itu pun baru memasuki arena gerbang utama Peruri. Jangan bayangkan saat memasuki gedung produksi percetakan uangnya, banyak persyaratannya!
 
Kali pertama yang Anda harus lakukan bila ingin memasuki areal proses produksi percetakan uang ini, Anda harus meninggalkan segala bentuk teknologi digital yang Anda bawa antara lain telepon genggam (handphone) dan alat perekam gambar seperti kamera digital. Tidak hanya itu, uang dan dompet pun harus diamankan terlebih dahulu. Tapi jangan khawatir, barang-barang yang Anda tinggalkan tersebut akan disimpan di loker yang sudah disediakan di depan pintu masuk dan kunci loker Anda yang bawa.
 
Setelah itu, barulah Anda boleh memasuki pintu putar gedung. Usai melewati pintu putar, Anda akan langsung menjumpai sejumlah etalase yang dipajang di dalamnya sejumlah produk pabrikan Peruri. Mulai dari uang kertas dan uang logam yang telah diproduksi Peruri dari awal hingga terbaru, kertas berharga nonuang seperti perangko, pita cukai, passport, sertifikat tanah, ijazah, materai, serta dipajang juga maket arsitektur denah kawasan Peruri.
Usai puas menikmati pajangan-pajangan di sejumlah etalase tersebut, lalu Anda bisa beranjak ke lantai dua. Bisa menaiki tangga maupun lift. Di lantai dua inilah Anda bisa melihat secara langsung bagaimana uang diproduksi, mulai dari tahapan awal hingga akhir produksi.
 
Berikut tahapan proses percetakan uang kertas:


1.Proses Plat Cetak Intaglio/Galvano (Engraving Process)
Ini merupakan tahap awal dari proses percetakan uang kertas. Butuh waktu tiga hingga lima bulan untuk membuat plat cetak uang tersebut.


2.Proses Roll Sablon Intaglio (Inking Schablon Process)
Setelah membuat plat cetak, lalu beranjak ke proses pemberian tinta roll mesin penggulung atau alat pemutar untuk mencetak uang.

 
3.Proses Cetak Uang Kertas Tahap Cetak Rata (Offset Process)
Setelah plat dan roll pencetak uang sudah siap, maka kini dimulailah tahap pencetakan uang ke kertas. Satu kertas lembar besar tersebut memuat 45 – 50 bilyet (lembar) uang. Untuk lembaran uang Rp1.000, Rp2.000, dan Rp5.000 memuat 50 bilyet per kertas. Sedangkan untuk lembaran uang Rp10.000 hingga Rp100.000 memuat 45 bilyet per kertas. Ini merupakan tahap di mana pemberian warna dasar uang.


4.Proses Cetak Uang Kertas Tahap Cetak Dalam (Intaglio Process)Setelah kertas diberi warna dasar, kemudian dilanjutkan dengan pencetakan kertas di lembar bagian dalam atau di lembar sebaliknya. Namun sebelum mencetak bagian dalam, kertas yang telah diberi warna dasar terlebih dahulu dikeringkan selama satu hari.



 
5.Proses Pemeriksaan Lembar Besar (Inspection Process)
Setelah dua bagian kertas telah dicetak, lalu dilakukanlah pemeriksaan uang. Pemeriksaan ini dilakukan secara manual oleh karyawan guna melihat apakah ada kerusakan dalam proses produksi. Bila diketahui ada yang rusak atau cacat, maka pada lembaran yang rusak itu akan ditandai dengan coretan.
 

6.Proses Cetak Nomor (Numbering Process)Usai diperiksa secara manual, maka dilanjutkan dengan pemberian nomor uang. Nomor uang ini disesuaikan dengan pesanan Bank Indonesia (BI). Terdapat tiga mesin putar pencetak nomor yang telah diisi dengan plat nomor masing-masing uang.

Setelah pencetakan nomor, maka uang kertas tersebut harus diperiksa kembali guna mengecek kebenaran dan keabsahan nomor uang tersebut.
 
 

7.Proses Penyelesaian (Cutpack Process)
Ini merupakan tahapan akhir dari segala proses pencetakan uang kertas. Proses ini terbagi dua yaitu proses penyelesaian secara mekanis dan manual. Secara mekanis, kertas lembar besar tersebut kini dipotong menggunakan mesin pemotong kertas. Secara manual, lembaran uang diperiksa kembali langsung oleh sejumlah pekerja yang didominasi perempuan. Pada tahap akhir ini pulalah lembaran-lembaran uang yang rusak atau cacat dilubangi untuk kemudian dihancurkan.
Demikianlah tahapan proses pencetakan uang, ternyata tidak semudah yang kita bayangkan selama ini bukan?
Perlu diketahui, bahan uang kertas asli dari Bank Indonesia (BI) yang beredar di pasaran selama ini terbuat dari bahan katun, sehingga tidak mudah luntur, kusam, dan robek. Jadi jangan tertipu dengan uang palsu yang tentunya proses pembuatannya lebih cepat, namun uang hasil cetakannya pun akan lebih cepat kusam, luntur, dan rusak.
Untuk pesanan domestik, Peruri hanya melakukan proses produksi, sedangkan bahan diperoleh dari BI. Sementara untuk pemesanan luar negeri, seperti pemesanan uangNepal, Somalia, dan Mauritius, Peruri sendirilah yang menyiapkan segala sesuatunya, termasuk bahan kertas.
 
 
Jadi, mulai sekarang hargailah berapa sen pun uang yang Anda punya.